Hubungan Antara Pneumonia Dengan Mourizio Sarri Serta Tomat

Pelatih baru Juventus, Mourizio Sarri harus menghadapi penyakit yang tiba-tiba menyerangnya. Penyakit tersebut adalah Pneumonia atau yang biasa kita sebut sebagai penyakit Radang pada paru-paru. Penyakit tersebut biasanya lebih banyak menyerang seseorang perokok, tetapi terkadang dalam beberapa kondisi, pengaruh dari lingkungan juga sangat mempengaruhi.

Mourizio Sarri yang terkena Pneumonia bukanlah hal yang perlu di herankan, hal tersebut di karenakan Mourizio Sarri sendiri merupakan seorang perokok berat. Pria yang telah berusia 60 tahun tersebut memiliki kebiasaan merokok yang sangat mengerikan, dalam sehari Mourizio Sarri dapat menghabiskan sampai dengan 70 batang rokok.

Kebiasaan merokok yang sangat parah sudah berjalan sangat lama bagi Mourizio Sarri sehingga pada akhirnya dirinya harus menderita Pneumonia. Di kabarkan bahwa akibat penyakit Pneumonia, Mourizio Sarri akan absen melatih di Juventus sampai dengan 2 pekan kedepan.

Melihat kasus serupa yang dialami oleh Mourizio Sarri akibat kebiasaan buruknya tersebut kita harus mulai untuk melakukan introspeksi diri apabila kita adalah salah satu perokok berat juga. Kebiasaan merokok pada akhirnya akan menghasilkan suatu dampak buruk bukan hanya untuk sang perokok saja, tetapi juga lingkungannya.

Dalam penelitan terakhir di tahun 2019 semester pertama, hampir 34% penduduknya merupakan perokok aktif, dan lebih dari 5 juta orang yang setiap tahunnya terkena penyakit paru-paru. Dalam perhitungan terakhir di semester pertama di tahun 2019, tercatat angka kematian di karenakan penyakit paru-paru mencapai 400.000 orang.

Tetapi bagi anda yang merupakan perokok aktif dapat juga mencegah terjangkitnya penyakit Pneumonia, salah satu caranya adalah dengan memakan “Tomat”. Tomat memiliki sangat banyak vitamin serta nutrisi yang dipergunakan untuk memperbaiki kerusakan pada paru-paru seseorang, selain itu Tomat juga bisa membantu meningkatkan daya penglihatan serta membantu anda untuk diet dan menjaga kebugaran tubuh.

Tetapi berdasarkan penelitan diatas dapat kita ketahui bahwasannya merokok tidak akan mendapatkan hasil yang positif tetapi malah sebaliknya. Selain penyakit paru-paru masih sangat banyak penyakit yang di timbulkan oleh rokok, maka dari itulah sebaiknya anda mulai berhenti merokok dari sekarang.

 

Penyakit Aneh di Kehidupan Nyata

Related image

Mungkin penyakit seperti tifus, kanker, Batuk, serangan jantung dan pilek sudah pernah kita dengar. Akan tetapi, pernah tidak kita mendengar seseorang berbicara dengan bahasa lain secara tiba – tiba atau kulit berubah menjadi biru seperti Smurf?

Di dunia ini pasti kedua hal tersebut dapat terjadi. Berikut beberapa penyakit aneh yang ada di kehidupan nyata, seperti

◙ Si Kulit Biru ( Methemoglobinemia )

Methemoglobinemia merupakan salah satu kondisi yang mana kulit berubah menjadi biru yang diakibatkan adanya kelainan darah dalam tubuh. Ini mungkin dapat terjadi karena dipengaruhi terhadap kelainan dalam memproduksi methemoglobin ( Bagian dari hemoglobin ) secara berlebihan.

Kondisi seperti ini biasanya produksi methemoglobin menjadi meningkat yang mana sebelumnya hanya 1 persen menjadi 20 persen.

Namun, penyakit ini mungkin bisa saja disebabkan oleh adanya pengaruh terhadap obat ataupun kelainan genetik.

◙ Aksen Bahasa Asing

Mungkin kita pernah mendenger seseorang yang sedang berbicara satu detik yang lalu normal, namun tidak lama kemudian ia berbicara dengan bahasa lain. Ini mungkin hal yang aneh tapi itulah FAS ( Foreign Accent Syndrome ) yaitu suatu gangguan yang terjadi karena adanya perubahan terhadap bahasa saat berbicara. Biasanya ini bisa terjadi karena adanya cedera pada otak ataupun stroke.

◙ Penyakit Morgellons

Biasanya seseorang yang mengalami penyakit Morgellons ini sering merasa seperti adanya serangga yang sedang merayap di dalam tubuhnya. Namun, kenyataan tidak ada sama sekali.

Kondisi ini biasanya bisa terjadi terhadap seseorang yang memiliki permasalahan pada kulit yang disebabkan oleh infeksi ataupun bakteri, depresi serta mengalami kesulitan berkonsentrasi.